Sejarah dan Proses Masuknya Islam Ke Tanah Melayu

5 (100%) 1 vote

Sejarah Kedatangan Islam Ke Tanah Melayu

Sejarah Kedatangan Islam Ke Tanah Melayu – Yang dimaksud dengan negeri-negeri melayu atau boleh juga dikatakan pulau-pulau melayu, ialah sejak dari semenanjung tanah melayu, turun ke sumatera, jawa, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau nusatenggara. Pulau-pulau Maluku termasuk irian, dan naik terus ke pulau-pulau Luzon dan Mindanao yang disebut pilipina di waktu sekarang.

Sejarah Kedatangan Islam Ke Tanah Melayu

Dalam pembahagian politik dewasa ini negeri-negeri itu sebahagiannya telah termasuk ke dalam wilayah siam yaitu melayu petani dan ligor, semenanjung tanah melayu telah tersusun dalam kerajaan persekutuan tanah melayu yang telah mencapai kemerdekaannya pada tanggal 31 agustus 1957, kemudian pada bulan September 1963 bergabung pulalah Kalimantan utara yaitu Sarawak dan sabah yang selama ini dibawah kuasa inggris ke dalam negera tersebut.

Lalu memakai nama baru Malaysia dan apa yang dahulu disebut gugusan pulau-pulau melayu ( malay archipelago ) sekarang menjadi republic Indonesia yang mengisytiharkan kemerdekaan dari penjajah belanda 17 agustus 1945, brunai berpemerintahan sendiri dibawah seorang sultan.
Selanjutnya lebih ke utara berjumpalah sambungan gugusan pulau-pulau itu, Luzon dan Mindanao yang kemudiaannya bernama pilipina yang kini telah menjadi sebuah republic merdeka yang didiami oleh sebahagian terbesar pemeluk agama Kristen-katolik.

Masuknya agama islam ke dalam negeri-negeri melayu ini nampaknya mempunyai keistimewaan sendiri yaitu dengan jalan damai dan berangsur jarang sekali dengan kekerasan dan diterima dengan suka rela oleh penduduk meskipun tidak dengan sekaligus.

Sejak bangsa-bangsa barat mulai memasuki negeri-negeri melayu ini permulaan abad ke enam belas ( 1511 ) dimulai oleh orang portugis dituruti oleh spanyol kemudian belanda dan inggris dan pernah juga ikut bangsa perancis, maka beberapa ahli ilmu pengetahuan dan penyelidikan telah berusaha menyelidiki bilakah masuknya agama islam ke negeri-negeri ini. Agak sulitlah mengumpulkan bahan-bahan itu, sebab negeri-negeri ini sangatlah jauh daripada pusat permulaan tumbuhnya agama islam yaitu tanah arab.

Sehingga lantaran itu, tidaklah dikirim ketempat sejauh ini suatu missi angkatan perang yang besar, sebagaimana dikirim ke anak benua Hindustan atau ke mesir atau ke semenanjung Iberia ( spanyol-portugal ) atau ke asia tengah yang semuanya itu telah terjadi di abad-abad permulaan dari islam terutama dizaman bani umayah, sehingga seorang sahabat nabi, bernama abu ayyub al-anshairy telah syahid dipintu gerbang konstantinopel masih dizaman muawiyah.

Di zaman permulaan sekali

Tetapi karena ketelitian menyelidiki segala bahan yang ada, bertemulah beberapa catatan penting dari pusaka-pusaka tiongkok bahwa orang arab pelopor pertama dari islam telah datang ke negeri-negeri melayu pada abad ketujuh masehi, artinya abad pertama dari islam ( tahun hijrah dimulai pada tahun 622 masehi dan nabi muhamad wafat tahun 632 masehi ).

Sebab itu menurut sir Thomas Arnold, mustahil dapat diketahui tanggal yang jelas dan tahun yang tepat bilakah masuknya agama islam kepulau-pulau melayu itu, barangkali telah dibawa kesana oleh saudagar-saudagar arab pada abad pertama dari hijrah nabi, yaitu lama sebelum sampai kepada kita keterangan-keterangan tentang sejarah terjadinya pengaruh agama itu dinegeri-negeri itu.

Baca Juga :  PPKI : Pengertian, Sejarah, Tugas, Anggota dan Sidangnya Lengkap

Yang menyebabkan bahwa kemungkinan seperti itu sangat boleh jadi, ialah karena telah kita ketahui bahwa orang arab telah melakukan perniagaan yang sangat luas dibahagian negeri itu sejak masa permulaan sekali, pada abad kedua dari hijrah perniagaan dipulau sailan semuanya adalah dalam tangan mereka, sejak permulaan abad ketujuh masehi perniagaan mereka telah sampai ke tiongkok, dan sangat majunya, dengan malalui sailan.

Sehingga dipertengahan abad ke delapan masehi ( masih abad pertama hijrah peny ), saudagar-saudagar arab itu telah mempunyai pusat perniagaan yang ramai di kanton. Diantara abad ke sepuluh dengan abad kelima belas sampai datangnya bangsa portugis ditangan orang arablah terpegang seluruh perniagaan disebelah timur, dengan tidak ada siapapun saingannya.
Oleh sebab itu dapatlah kita menyangka dengan sedikit kepastian yang dapat diterima akal, bahwa orang arab telah meletakkan sendi-sendi daerah perniagaannya pada beberapa pulau melayu pada masa itu, sebagaimana yang mereka laukan pula ditempat-tempat yang lain dimasa-masa permulaan itu.

Catatan dari cina

Yang teramat penting pula ialah tentang catatan tiongkok yang lain yang menyatakan bahwa di “ cho’po ” ada sebuah kerajaan holing ( ho-ling ) pada tahun 674-675 M. diangkat oranglah seorang perempuan menjadi ratu bernama si-ma.

Negara ho-ling itu sangatlah aman dan makmurnya, dan ratu itu memerintah sangat adil dan keras menjaga keamanan, khabar berita tentang negeri itu terdengalah kepada raja ta-cheh. Lalu beliau utus orang ke negeri itu untuk membuktikan perkhabaran itu, disuruhnya orang mencecerkan sebuah pundi-pundi berisi emas ditengah-tengah pusat kota negeri itu, namun tidak ada orang yang mengambilnya.

Akhirnya setelah tiga tahun pundi-pundi berhujan berpanas ditengah jalan, datanglah putera raja lau pundi-pundi itu diambilnya, buka main murka ratu mendengar kejahatan perbuatan anaknya, sehingga diperintahkannya menteri-menteri membunuh anaknya itu, dengan sangat para menteri memohon kepada ratu supaya hukuman yang sangat keras itu jangan dijalankan akhirnya diringankan yaitu disuruh memotong kaki puteranya itu.

Dalam rangka penyelidikan sejarah-sejarah kuno Indonesia telah dapat ditafsirkan bahwa yang dinamai oleh ahli sejarah tiongkok itu “ cho’po ” ialah tanah jawa, dan ho-ling ialah kerajaan kalingga dijawa timur dan ratu sima ialah seorang raja perempuan dinegeri kalinga pada masa itu dan diakui pula dalam sejarah bahwa memang beberapa kali kerajaan kalinga itu mengirim utusan ke tiongkok.

Adapun ta-cheh adalah nama yang diberikan oleh bangsa china kepada seorang arab, dalam catatan itu disebut “ raja ta-cheh ” yaitu raja arab. Maka berkerulah kening ahli-ahli penyelidik barat itu mencari siapakah agaknya raja itu, bahkan ada saja yang segera mengambil keputusan bahwa catatan orang tiongkok itu adalah dongeng saja, tetapi pada waktu-waktu terakhir itu sudah timbul dalam kalangan mereka yang meninjau kembali dengan seksama catatan penulis-penulis cina itu.

Baca Juga :  Tri Koro Darmo : Pengertian, Sejarah, Tujuan dan Tokohnya Lengkap

Sejarah islam dengan jelas mencatat bahwasanya “ raja besar ” arab yang masyhur pada masa itu ialah muawiyah bin abi sufyan sahabat nabi dan pembangun pertama kerajaan bani umayah, setelah diangkat oleh khalifah umar bin khathab menjadi gubernur di syam, berkedudukan di damaskus maka setelah dia menang berperang merebut kekuasaan dari khalifah ke empat, ali bin abi thalib, beliau memaklumkan dirinya sebagai khalifah pada tahun 657 M. dan beliau wafat pada tahun 680 M.

Sedangkan catatan pemulis cina tentang ratu simo itu ialah 674-675 M. amat besar kemungkinan bahwa tidak ada orang lain tempat memasangkan “ raja ta-cha ” itu melainkan muawiyahlah, besar kemungkinan bahwa penyelidikan ke tanah jawa ini amat rapat persangkutannya dengan usaha beliau mendirikan armada islam, sebab beliaulah khalifah islam yang mula-mula mendirikan armada angkatan laut mungkin sekali bahwa setelah, utusan atau mata-matanya menyelidiki sendiri ke tanah jawa dan menguji perjhabaran tentang keteguhan hati ratu itu memrintah niat baginda hendak mengirim perutusan memasuki pualu-pulau melayu beliau urungkan saja.

Besar pula kemungkinan bahwasanya “ perkampungan ” ( jariyah atau mustamirah ) orang arab yang didapati oleh penulis tiongkok dipantai sebelah barat pulah sumatera itu ada sangkut paut yang rapat dengan perutusan yang datang ke tanah jawa ke dalam kerajaan kalinga itu.

Dalam sejarah pribadi muawiyah amtlah terkenal kecerdikan dan kebijaksanaan baginda memerintah, diantaranya bagindapun mengadakan badan-badan “ penyelidiki “ untuk pergi melihat-melihat negeri orang.

Bertambah jelaslah bahwasanya orang-orang arab itu sejak abad-abad hijrah yang pertama telah mengembara melalui lauran hindia disamping yang melalui jalan darat, mereka telah membuat perkampungan sendiri dinegeri-negeri yang mereka datangi itu, tempat mereka singgah yang terkenal ialah pantai Malabar dan pulau sailan.

Bahkan salah satu sebab maka pada tahun 711-712 M, gubernur negeri irak yang terkenal bengisnya itu yaitu hajjaaj bin yusuf mengirim angkatan perang memasuki benua Hindustan sehingga sampai ke multan dikaki gunung Himalaya, ialah karena raja pulau sailan mengirimkan kepada hajjaj itu beberapa orang gadis yatim.

Ayah mereka ialah saudagar-saudagar arab yang pernah kawin dengan penduduk pribumi disailan, maka ada diantara ayahnya itu yang telah mati dan berangkat ke negeri lain, sehingga anak-anaknya telah tinggal, tetapi setelah gadis-gadis yaitim itu dikirim dengan satu kapal dagang hendak dibawa ke irak tiba-tiba kapal itu dirampok oleh lanun dan anak-anak itu diambil menjadi budak hajjaj amat murka sehingga penyerangan ke tanah Hindustan yang telah lama direncanakan segera dilaksanakan dengan menjadikan rampok lanun itu jadi alasan.

Baca Juga :  Perjanjian Setelah Perang Dunia Ke-2 (Postdam, San Francisco, Paris, Wina)

Langsungkah dari tanah arab ?

Kemudian itu timbul pulalah persolan ahli-ahli penyelidik, apakah islam diterima langsung dari tanah arab atau diterima dari orang islam india ? Maka agak meratalah faham bahwasanya masuknya islam ke tanah Indonesia atau ke negeri-negeri melayu, bukanlah langsung dari tanah arab melainkan dari india dari pantai Malabar.

Senafas dengan itu dikatakan bahwasanya islam yang diterima disini bukanlah lagi asli dari arab melainkan telah dari tanah kedua yaiotu dari orang islam india dan orang islam Persia.
Maka untuk menjelaskan soalnya lebih baik dipisahkan diantara kedua soal itu, soal pertama ialah islam masuk ke negeri-negeri melayu soal kedua pembawanya orang arab atau orang islam india dan Persia.

Menilik bahwasanya alat perhubungan pada masa itu ialah kapal layar belum lagi kapal-kapal besar sebagai sekarang yang dapat melalui dengan jarak jauh niscaya tidak ada kemungkinan yang lebih dekat dari pada kebenaran bahwa pantai Malabar memang menjadi tempat persinggahan besar dari pada kapal-kapal arab yang berlayar berniaga kesebelah timur pada masa itu.

Jalan ditempuh keduanya pertama menyusur pantai lautan merah atau dari pantai sebelah selatan melalui sungai sind yang besar itu, yang menyusur pantai lauran merah menyusur pula sampai ke pantai Malabar, jika angin baik karena dapat langsung menuju pelabuhan kulam yang melalui selat Persia bertemu lagi dilaut benggala dan menyamakan haluan menuju kulam.

Pemusatan pertama ialah basrah dan siraf kemudian itu oman dari sana menuju pulau sailan atau Malabar atau koromandel, kemudian itu perhentian yang ramai terletak ditanah melayu, yaitu dikalah, setengah orang mengatakan kalah itu, ialah tanah genting kra, setengahnya lagi mengatakan kedah dan pendapat terakhir ( dari prof, fatemi professor tetamu di university of melaya ) ialah klang.

Adapun setelah abad-abadnya yang kemudian yaitu setelah kekuasaan islam merata dihindustan sendiri misalnya didalam abad ke tigabelas dan seterusnya,memanglah bukan bangsa arab saja lagi yang mengembara ke negeri-negeri melayu dan cara berfikir pada masa-masa yang demikian jauhlah berbeda dengan zaman sekarang setiap yang datang menunjukkan betapa hubungannya dengan orang arab.

Banyak keturunan kaum said, keturunan rasulullah datang dari Hindustan atau dari Persia dan banyak pula keturunan sahabat-sahabat nabi yang datang dari Malabar dan pada masa itu orang-orang negeri melayu sendiripun telah mulai berhubungan langsung dengan tanah arab sendiri sehingga seorang guru shufi yang besar.

Syekh abu masud Abdullah bin masud al-jawi telah pergi ke tanah arab sampai dia sendiripun menjadi guru disana dan memberikan ijazah kepada murid-muridnya, diantara murid yang diberinya ijazah ialah Abdullah al-yafiiy seorang ulama tasawwuf yang besar ( 1300-1376 M. ) pengarang kitab raudhur riyahin fi hikayatish shalihin.

Sumber : N.V,Bulan Bintang, PROF.DR. HAMKA

Baca Juga :