Resesi : Pengertian, Akibat, Penyebab, Dampak Dan Cara Mengatasinya Lengkap

5 (100%) 1 vote

Resesi : Pengertian, Akibat, Penyebab, Dampak Dan Cara Mengatasinya Lengkap

Resesi– Pada ilmu ekonomi makro resesi atau yang sering disebut dengan kemerosotan, merupakan Produk Domestik Bruto atau GDP menurun ketika pertumbuhan ekonomi memiliki nilai negatif selama dua kuartal lebih, atau di dalam satu tahun.

Resesi ini juga bisa mengakibatkan menurunya semua kegiatan ekonomi secara simultan, contohnya lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi juga akan diasosiasikan dengan menurunnya harga atau deflasi, atau bisa juga kebalikannya. Dengan meningkatnya harga dengan drastis atau inflasi, di dalam sebuah proses yang dinamakan stagflasi.

Resesi ekonomi juga akan berjalan dalam waktu yang lama, yang dinamakan dengan depresi ekonomi. Penururan drastis dalam tingkat ekonomi ini seringkali disebabkan oleh depresi yang parah atau hiperinflasi. Yang juga dinamakan kebangkrutan.

Akibat Dari Resesi

Gejala kongjungtur utamanya akan dirasakan oleh negara industri, dengan sistem ekonomi yang bebas atau mixed. Hal itu dikarenakan oleh adanya reaksi di dunia bisnis yang lebih cepat dan juga sensitif. Sedangkan permintaan dari masyarakat lebih elastis.

Namun Indonesia juga akan merasakan akibatnya jika resesi terjadi di luar negeri. Contohnya di tahun 1979-1980 perekonomian dunia akan mengalami resesi melalui aktivitas impor dan ekspor, hal ini tentu berpengaruh pada kondisi ekonomi yang ada di dalam negeri.

Berikut ini ada beberapa akibat dari resesi internasional pada perekonomian di Indonesia, diantaranya yaitu :

  1. Harga minyak bumi yang tidak naik tetapi malah semakin menurun.
  2. Banyaknya jumlah komoditi ekspor yang mulai mengalami penurunan harga dan jumlah ekspor yang terkena, dan juga jumlah komoditi lainnya seperti misalnya  lada, kopi, tapioka, rotan, bijih nikel, bauksit, dan sebagainya. Akan terlihat menurun jika dilihat dari segi harga.
Baca Juga :  10 Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Terlengkap

Nilai dan hasil ekspor nonmigas pada ukuran yang nyata, dapat disebut menurun sedikit dan juga mempunyai kecenderungan yang akan berjalan terus. Berikut penjelasannya :

  1. Hasil dari ekspor barang industri misalnya tekstil juga memiliki kendala yang disebabkan oleh proteksionisme di luar negeri.
  2. Resesi dunia masih juga berlanjut, baik di negara Amerika maupun di Eropa dan juga di Jepang. Akibat dari permintaan pada barang ekspor Indonesia yang tidak meningkat, bahkan menurun.
  3. Tingkat bunga di Amerika yang terbilang tinggi. Yang mengakibatkan dolar kembali ke Amerika, dengan kedudukan dolar yang lebih tinggi dibanding rupiah, ekspor Indonesia pun menjadi lebih berat untuk dapat bersaing dengan Indonesia.
  4. Menurunnya harga minyak menjadi suatu pukulan yang berat bagi perekonomian Indonesia, dan untuk pembangunan, dan yang dulu diambil dari penerimaan migas menjadi sangat menurun.
  5. Ekspor non migas pun akan terkena dampaknya, dan tidak meningkat seperti yang diharapkan. Dan belum bisa mengimbangi kerugian karena harga minyak yang menurun.
  6. Cabang industri yang ada di dalam negeri yang juga menurun seperti misalnya  industri tekstil, otomotif, elektronika, bangunan atau konstruksi.

Penyebab Resesi Ekonomi Di Indonesia

Pada dasarnya Indonesia menjadi korban dari resesi yang telah mengguncang Amerika, yang menjadi raksasa dunia. Pengaruh dari resesi Amerika ini masuk ke Indonesia dengan melalui bursa efek dan sektor yang riil. Melalui jalan sektor riil ini Amerikan menjadi negara yang menyerap sampai 10%nya Indonesia, atau menjadi nomor dua yang terbesar setelah Jepang.

Hal itu tentu akan mengganggu jumlah ekspor yang ada di Indonesia dan meruntuhkan perusahaan yang ada di Indonesia, yang menguntungkan sektor ekspor ke Amerika. Lemahnya ekspor tersebut akan menekan produksi yang ada di sektor riil, yang kemudian bisa menekan sektor keuangan.

Baca Juga :  Sentralisasi : Pengertian, Tujuan, Ciri-Ciri, Dan Dampaknya Lengkap

Dampak Resesi Ekonomi Untuk Indonesia

Ada tiga jenis dampak atau pengaruh pada krisis keuangan global pada Indonesia. Antara lain yaitu :

  1. Tidak stabilnya kurs dolar akan memukul langsung dan membuat kurs dolar membuat rupiah melemah. Hal itu juga akan memukul sektor ekspor impor yang ada di Indonesia.
  2. Dilihat dari tingkat suku bunga, ketidakstabilan dolar tersebut akan membuat suku bunga meningkat. Karena Bank Indonesia akan menarik rupiah ke dalamnya. Dampaknya yaitu inflasi yang semakin meninggi. Dampaknya pada Bank Syariah yang menjadi kurang kompetitif.
  3. Gabungan antara kurs dolar yang tinggi dengan suku bunga yang naik, akan berdampak pada dua hal. Investor di dalam sektor ini pun akan banyak yang membatalkan investasinya. Akibat lainnya yaitu investasi pada sebuah saham. Banyak orang yang keluar dari bisnis saham sebuah pasar modal.

Pada awal krisis akan berimbas pada bursa efek Indonesia yang runtuh. Pada saat bursa di Amerika dan Eropa turun menjadi 4%, maka Indonesia menjadi terpangkas dua kali lipat sampai mencapai 10%. Transmisi dampaknya pada sektor riil mungkin akan menjadi lebih parah, saat rupiah mulai melemah pada dolar Amerika. Kalangan pengusaha pun akan kesulitan likuiditas. Akibat yang mungkin terjadi di Indonesia akan dijadikan sasaran dumping barang ekspor dari negara lainnya.

Jika barang yang pada awalnya akan diekspor di AS, lalu batal karena adalnya resesi maka yang harus dikhawatirkan adalah bila masuknya barang itu ke Indonesia dilakukan dengan cara ilegal.

Cara Mengatasi Resesi Ekonomi

Dampak dari resesi ekonomi ini juga akan berimbas pada neraca pembayaran, dari sisi ekspor atau impor. Dan pengaruhnya pada pasar saham dan pasar uang. Tetapi dari beberapa dampak yang bisa diidentifikasi maka pemerintah sudah melakukan beragam kebijakan fiskal.

Baca Juga :  Peran Manifesto Politik 1925 : Kongres Pemuda 1928 dan Kongres Perempuan Pertama

Kebijakan tersebut antara lain yaitu penurunan pada bea masuk, dengan pemberian subsidi dan menciptakan insentif agar perusahaan dan sektor usahanya tidak terbebani terlalu besar. Di bidang moneter keputusan yang diambil oleh BI atau Bank Indonesia adalah, dengan mempertahankan suku bunga acuan BI rate di level 9,5. Hal itu dilakukan BI agar dapat mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, dan usaha dalam menjaga stabilitas moneter.

Di Indonesia tekanan inflasi akan mulai mereda, walaupun laju inflasi masih cukup tinggi dan mencapai 11,77% per tahun. BI juga tidak mengubah BI rate dengan memprioritaskan menahan ekspektasi inflasi, dan untuk menjaga kurs agar tidak melemah semakin dalam.

Itulah pembahasan mengenai resesi secara lengkap, semoga dapat menambah wawasan dan memberi manfaat.

Baca Juga :